Fase 1: Panggilan. Setiap orang percaya dipanggil untuk memberi dampak, bukan sekadar berkarir atau melayani formal. Samuel diposisikan di Bait Allah dekat tabut, di bawah Eli yang sudah tua dan lemah. Meski firman Tuhan jarang pada zaman itu, Samuel tetap setia. Tuhan memanggilnya tiga kali di malam hari. Samuel berlari kepada Eli, menunjukkan hormat meski pemimpinnya tidak sempurna. Panggilan hanya diterima oleh mereka yang berada di hadirat Tuhan dan dalam komunitas.
Fase 2: Pelatihan. Tuhan menguji karakter dan integritas. Tuhan memberitahu Samuel tentang penghakiman atas rumah Eli karena dosa anak-anaknya. Samuel takut, tetapi akhirnya menyampaikan seluruh pesan dengan jujur tanpa menyembunyikan apa pun. Ia tetap menghormati Eli. Fase ini membentuk orang supaya tidak murtad, tidak serakah, dan tidak mengambil kemuliaan Tuhan ketika kelak diberi otoritas.
Fase 3: Pengutusan. Ketika Tuhan mengutus, Ia yang bertanggung jawab. Samuel bertumbuh, dan tidak satu pun firman yang diucapkannya jatuh ke tanah. Seluruh Israel mengenalinya sebagai nabi yang dipercayakan Tuhan. Di masa kebangunan rohani (1 Samuel 7), orang Filistin dikalahkan, kota-kota yang hilang dikembalikan, dan ada damai dengan orang Amori. Samuel membawa perlindungan, pemulihan, dan berkat bagi bangsa tanpa mempromosikan diri.
Sering kali Tuhan bekerja lewat keinginan dan kerinduan. Namun kadang untuk mencegah kita Tuhan menaruh di hati pencegahan tersebut. Ketika Tuhan mengarahkan kita yang harus kita lakukan adalah mengejar arahan Tuhan. Ada yang ikut destiny Tuhan ketika akhir hidupnya memakai jas dan bisa membaringkan tubuhnya sendiri di kasur lalu meninggal. Semua tergantung kita mengikuti Tuhan atau tidak. Semua yang Tuhan berikan ke kita adalah benih tergantung kita kelola dan menaburnya.
Lukas 16:10
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Melakukan destiny Tuhan berarti mengikuti kehendak Roh Kudus dibandingkan kehendak kita. Kita perlu menyangkal diri kita untuk mengikuti kehendak Roh Kudus. Ketika berjalan di destiny Tuhan akan ada saat di mana kita perlu memilih mengasihi, mengampuni, dan memegang tujuan akhirnya yaitu Tuhan bukan manusia. Mengerti tujuan hidup kita sangat penting. Perlu kita menyerahkan ego dan kemauan kepada Tuhan sehingga kita bisa mengerti tujuan hidup kita yaitu menyenangkan hati Tuhan. Kasih sangat penting dalam menuju tujuan hidup kita.
Tuduhan di dalam hidup kita sering jadi penghalang kita yang sedang belajar mengerti tujuan Tuhan dan mengaplikasikan kasih di hidup kita. Tuduhan atas kesalahan kita bisa membuat kita yang sedang belajar kasih lupa menyenangkan Tuhan. Menyenangkan Tuhan caranya adalah berbuahlah buah roh, setia di perkara-perkara kecil.
Bilangan 32:1-5
1 Adapun bani Ruben dan bani Gad ternaknya banyak, bahkan sangat banyak sekali. Ketika mereka melihat tanah Yaezer dan tanah Gilead, tampaklah tempat itu tempat yang baik untuk peternakan.
2 Lalu datanglah bani Gad dan bani Ruben dan berkata kepada Musa, imam Eleazar dan para pemimpin umat itu:
3 "Atarot, Dibon, Yaezer, Nimra, Hesybon, Eleale, Sebam, Nebo dan Beon,
4 negeri yang telah dikalahkan oleh TUHAN untuk umat Israel, itulah suatu negeri yang baik untuk peternakan dan hamba-hambamu ini memang ada ternaknya."
5 Lagi kata mereka: "Jika kami mendapat kasihmu, biarlah negeri ini diberikan kepada hamba-hambamu ini sebagai milik; janganlah kami harus pindah ke seberang sungai Yordan."
Mencapai destiny Tuhan membagi orang menjadi 2 jenis. Satu orang yang mencapai destinynya berdasarkan apa yang dia punya dan butuhkan. Kedua menempuh destinynya berdasarkan siapa dirinya dihadapan Tuhan. Bani Ruben dan Gad menghiraukan destinynya membangun sebuah bangsa. Bani Ruben dan Gad memilih kekayaan pribadi dibandingkan berperang untuk tanah perjanjian Tuhan. Tindakan menyenangkan Tuhan bukan hanya urusan di surga mendapatkan mansion atau hal lain di surga. Tindakan menyenangkan Tuhan membuat kita berkemenangan di dalam melawan musuh-musuh kita dikehidupan kita sehari-hari.
Kita sedang ada di akhir zaman suka tidak suka, mau ambil bagian atau tidak. Kita perlu mengembangkan, kelola, menabur apa yang ada dalam hidup kita, supaya kita bisa menyelesaikan hidup kita dengan baik. Kita dalam menjalani destiny membutuhkan tanggung jawab dalam menyelesaikan sampai akhir hidup kita. Jangan pernah memulai dengan kehendak Roh Kudus tetapi mengakhiri dengan daging. Dalam menempuh destiny kita perlu meninggalkan kegagalan dan masa lalu pahit kita.
Ada dua bayangan yang menghalangi destiny berhasil. Satu trauma masa lalu masing-masing dari kita. Dua inner child kita. Inner child adalah bagian dari diri seseorang yang menyimpan seluruh kenangan, emosi, dan pengalaman masa kecil, yang tetap ada di dalam diri seseorang meskipun ia sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Sisi ini memengaruhi cara berpikir, merasa, dan merespons berbagai situasi di masa kini.
Sifat dan Dampak Inner Child
- Bersifat netral: Menyimpan kenangan baik (seperti rasa dicintai dan gembira) maupun kenangan buruk (seperti rasa takut atau diabaikan).
- Membentuk karakter: Menentukan cara seseorang berinteraksi, mengatasi masalah, dan membangun hubungan sosial.
- Menjadi luka batin: Pengalaman buruk atau trauma masa lalu dapat membuat inner child terluka dan memicu kecemasan atau kesulitan emosional saat dewasa.
Cara Mengenali dan Berdamai
- Mengakui perasaan: Menerima emosi marah, sedih, atau takut yang muncul tanpa menghakimi diri sendiri.
- Refleksi diri: Menelusuri kembali akar pemicu emosi masa lalu yang kerap berdampak pada perilaku hari ini.
- Konsultasi profesional: Meminta bantuan psikolog jika trauma masa kecil terasa berat dan mengganggu keseharian.
Amsal 23:18
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
Tuhan sudah tebus semua di kayu salib. Tuhan di taman getsemani merasa takut dan terintimidasi ketika berdoa kepada Bapa. Namun Tuhan Yesus menyelesaikan di kayu salib dengan mengatakan semua sudah selesai. Tuhan Yesus lunasi semua dan mengurapi murid-murid sebelum naik ke surga. Murid Tuhan Yesus mati tanpa rasa intimidasi menghalangi iman mereka. Destiny untuk sukses dihalangi oleh intimidasi iblis, kita perlu mengingat penebusan Tuhan dalam menjalani langkah-langkah menuju destiny akhir kita masing-masing.
Yeremia 29:11
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.